Kamiliya

Suasana bahagia, menanti kelahiran anak kedua. Namun, isteriku masih aja beraktifitas seperti biasa. Mengajar, pulang pergi naik motor sendiri. Usia kehamilan memasuki bulan ke-9. Hingga suatu malam, dia merasakan perutnya mules. Aku jadi berpikir, jangan-jangan udah saatnya nih.
"Gimana? Udah baikkan?" "Cepat abiii, panggilkan bidan. Malam ini..." Suaranya menghilang, tenggelam oleh rintih kesakitan yang berusaha dia tahan. "Kenapa malam ini? Besok aja ah... Besok!" "Ga bisa bi. Malam ini ya harus malam ini. Ayolah....cepat!" Arloji ku tengok. Udah lewat pukul 23.00. Mana ada bidan disini?Kami emang tinggal jauh dari kota. Puskesmasnya aja 10 kilo-an. Siapa yang bisa aku temui?
Ternyata, di lain desa ada dukun beranak. Naik motor, langsung tancep gas ke sana. Rumahnya naik bukit bo... Motor aku tinggal aja, naik jalan kaki. Gelap-gelapan.
"Assalamu'alaikum..." Pintu dibuka. Sempet kaget juga. Dukun bayinya masih keliatan muda. Kirain nenek-nenek. "Buruan! Isteri udah nangis-nangis". Langsung beliau paham, ambil peralatan, segala tetek bengek. Cabut.Bu dukun memeriksa isteriku. Menurutnya emang udah masanya. Mungkin ga sampai pagi.
Semalaman ga bisa tidur. Bukan apa-apa. Nyamuk... Ga dink... Yang pasti karena aku belum tenang sampai isteriku benar-benar melahirkan. Abis, sampai fajar menjelang, tetep gitu-gitu aja. Mules... mules...
"Tuu... kan? Apa abi bilang. Bukan malem-malem kan?" Isteriku masih bisa tersenyum. Udah mulai siang, jam sembilanan.
"Abi, tolong antar aku ke kamar mandi. Pengin buang..." Ku tuntun dia. Kamar mandi aja jauh gini. 15 meteran. "Pintu jangan di kunci. Kalo ada apa-apa, panggil aja". Sengaja ga aku tungguin. Bau.Ga lebih dari 5 menit, terdengar teriakan isteriku memanggil. "Tolong... tolong bi!"
Kontan aja aku lari. Ku lihat, isteri lagi berdiri. Pegangan pintu kamar mandi. "Ada apa ya?"
"Ini bi. Mau keluar. Panggil dukunnya..." Penasaran, aku cek ah... Allahu akbar! Kepala bayi dah mulai nongol. Dikiit... "Iya, tunggu sebentar!"Susah banget, kemana sih bu dukun? Oh... Ternyata lagi mbantu mecahin kelapa dibelakang rumah. Bergegas langsung ngambil peralatan.
Aku coba tuntun isteriku ke kamar. Ga bisa jalan. Coba kuangkat. Berat. Resiko juga sih. Bu dukun datang. "Ayo, tiduran. Udah, disini aja".
Proses keluarnya bayi berjalan cepat. Darah keluar. Lantai kamar mandi kayak ketumpahan cat merah. Keringat isteriku begitu dingin. Gemetaran. Mau pingsan aku!
Kelahiran anak pertama aja aku ogah disuruh ngelihat. Eh.. sekarang malah disuguhkan didepan mata. Anti banget sebenarnya aku ama yang ginian. Ga tega, lihat isteri begitu.
Bayi keluar. Bu dukun terus menarik tali plasenta dari rahim. Panjang banget. Baru sekali ini tau. Ga ada alas, ga ada apa. Anakku dibiarin menari-nari diatas lantai yang penuh darah.
Kelahirannya emang sedikit janggal. Air ketuban belum pecah. So, anakku masih dikemas selaput. Kaya dibungkus plastik gitu. Denger-denger, Gatotkaca, tokoh pewayangan, lahirnya juga begini. Selaputnya harus dibuka pake senjata pusaka. Anakku mah, pake tangannya bu dukun.
Air ketuban sebagian terminum bayi. Langsung disedot. Baru bisa nangis. "Eeaaa... eaaaa...." Lega...
Bayi perempuan, seperti yang aku inginkan sebelumnya. Anak pertamaku kan laki-laki.
Sejak kecil aku dididik orang tuaku untuk membereskan mainan selesai bermain. Sisa-sisa darah mesti aku bersihkan. Baru inget, air susah didapat. Kemarau berjalan begitu panjang. Baru masuk bulan Oktober. Sedikit persediaan air aku pakai aja. Kain-kain yang penuh darah aku kumpulkan. Masukkan ke ember, bawa kesungai naik motor. Baunya... weeekk...
Pulang dari mencuci, aku baru bisa terhibur. Anakku udah dimandiin, dibedakin. Imut bangeet... Rambutnya panjang, bibirnya mungil. Langsung kucium.
Ponakanku nyletuk, "Hoii... Kasih nama WC aja, atau toilet. Ha...ha...ha..."
Aku pura-pura tersenyum. Anak cantik begini, namanya toilet. Ga lucu!
Aku sebenarnya udah nyiapin nama buat anak perempuan, Lia. Dipikir-pikir ide ponakanku ada benernya juga, apa salahnya kalo tempat kelahirannya diabadikan. Itung-itung buat peringatan biar ga kayak gini lagi. Was-was.
Ketemu! Aku kasih nama dia, Kamilia. Akronim dari 'Kamar Mandi Lia'. Disempurnakan jadi Qatrunnada Kamiliya Imtinan. Bagai setetes embun pagi yang menyejukkan di musim kemarau ini.