Buat Ibu
Sampai saat ini, orang yang benar-benar tulus menyayangiku adalah ibuku. Beliau telah memberiku banyak hal, membuatku selalu ingin dapat membahagiakan dan membalas kebaikannya.
Masih lekat dalam ingatanku, begitu manja aku larut dalam dekapannya. Perasaan aman dan juga nyaman menyelimutiku. Dibalik sikap beliau yang tegas, penuh disiplin, tersimpan kelembutan. Sikap disiplin yang diterapkan, sebetulnya untuk kebaikan anak-anaknya juga. Beliau selalu punya waktu, dan siap menemani dalam semua keadaan. Saat aku sakit, beliaulah yang begitu intens merawatku.
Pernah suatu sore, aku keliling bersepeda bareng temen-temenku. Adik juga ikutan dan aku boncengin. Pulangnya melewati pasar yang jalannya turun curam banget. Udah sore, paling pasar juga sepi. Kan lebih cepat sampai. Pas mulai menuruni jalan, aku baru ingat, remnya blong! Pasar pun ga sepi-sepi amat seperti yang aku kira. Masih ada beberapa orang yang lalu lalang disitu. Aku ga tahu cara menghentikannya, dan ga ingin menabrak orang. Langsung sepeda aku arahkan ke mobil yang sedang parkir di pasar tersebut. Gedubraakkk!
Adikku terbang entah kemana. Yang aku rasakan, kakiku begitu sakit tergores aspal yang ga diamplas. Ternyata, adikku ga banyak luka, sedangkan kakiku berdarah-darah.
Sepeda kami tuntun pulang, dan aku kasih pesan ke adik agar jangan sekali-kali memberitahu masalah ini ke ibu. Takutnya ntar, udah sakit, e dimarahin lagi.
Adikku memang penurut. Hingga saat ibu masuk ke kamarku, ternyata rahasia tetap terjaga. Kenapa parah begini? Kok ga bilang-bilang? Aku diam saja ditanya begitu, masih kesakitan. Langsung dengan cekatan, beliau memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.
Selalu begitu, saat aku membutuhkan, beliau siap dan senang hati menemaniku. Akupun berusaha memberikan apa yang terbaik buat ibu dan menjadi kebanggaannya.
Masih ingat kan Bu? Anakmu ini sewaktu di SD beli tas cuma sekali? Setelah itu, aku merancang tas-tasku buat sekolah dan ibu yang menjahitkan. Temen-temen pada suka lho Bu. Masih ada ga ya tas-tasku yang dulu? Ingin aku koleksi.
Sampai ketemu Bu. Kemarin engkau benar-benar membuat aku terharu. Disaat usiaku yang udah menginjak kepala tiga, engkau masih sempat menciumku.
